DivisiNews.Com||Lebak,— Polemik dugaan kekeliruan penafsiran ayat suci Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 256 oleh Bupati Lebak pada saat pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah kian memanas dan menyita perhatian publik. Sorotan tajam datang dari King Naga, Ketua LSM GMBI Distrik Lebak, yang secara terbuka melayangkan kritik keras atas pernyataan yang dinilai berpotensi menyesatkan pemahaman masyarakat 25/3/2026.
Dalam pernyataannya yang juga terekam dalam sebuah video yang beredar luas di kalangan publik, King Naga menyampaikan pandangannya dengan tegas dan lugas. Video tersebut memperlihatkan secara langsung bagaimana ia mengkritisi dugaan kekeliruan dalam menafsirkan ayat suci, sekaligus mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam berbicara soal agama.
“Saya sebagai Ketua LSM GMBI menilai ini bukan sekadar kekeliruan biasa, tapi bisa berdampak serius terhadap pemahaman masyarakat. Tafsir Al-Qur’an itu ada ilmunya, bukan untuk ditafsirkan sesuka hati,” tegas King Naga dalam rekaman video tersebut.
Ia kemudian menyoroti pemahaman terhadap ayat “La Ikraha Fiddin”, yang menurutnya kerap disalahartikan. King Naga menjelaskan bahwa ayat tersebut secara tegas menekankan bahwa keimanan lahir dari kesadaran, bukan paksaan.
Laa ikraha fiddin (لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ) berasal dari surat Al-Baqarah ayat 256, yang artinya “tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)”. Jadi jangan dipelintir untuk membenarkan tafsir yang keluar dari konteks. Ini berbahaya jika dibiarkan,” ujarnya dengan nada tegas dalam video yang sama.
Tak hanya itu, dalam penjelasannya, ia juga meluruskan isu yang berkembang terkait perbedaan pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Indonesia. Menurutnya, perbedaan penetapan 1 Syawal bukanlah bentuk penyimpangan ajaran, melainkan hasil dari perbedaan metode penentuan antara hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan hilal).
“Perbedaan Idul Fitri itu soal ijtihad ulama, bukan soal benar atau salah dalam agama. Jangan sampai masyarakat digiring pada pemahaman yang keliru hanya karena pernyataan yang tidak tepat,” tambahnya.
Peristiwa ini menjadi cermin penting bahwa integritas dalam berucap adalah bagian dari tanggung jawab moral seorang pemimpin. Ketika agama disentuh tanpa kehati-hatian, maka yang muncul bukan pencerahan, melainkan potensi kegaduhan di tengah masyarakat. Tutup King Naga
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak Bupati Lebak atas polemik yang berkembang. Publik kini menanti sikap bijak dan penjelasan yang mampu meredam situasi serta mengembalikan kepercayaan masyarakat.
(Aris RJ).














