Example 728x250
DaerahBerita

Gubernur Minta PMI Papua Perkuat Kapasitas Relawan Hadapi Bencana dan Konflik Sosial

38
×

Gubernur Minta PMI Papua Perkuat Kapasitas Relawan Hadapi Bencana dan Konflik Sosial

Sebarkan artikel ini

Divisinews.com// Jayapura – Pemerintah Provinsi Papua secara tegas meminta Palang Merah Indonesia (PMI) untuk memperkuat kapasitas para relawannya dalam menghadapi berbagai potensi bencana alam maupun konflik sosial di Bumi Cenderawasih.

Kesiap-siagaan yang dimaksud tidak hanya mencakup kemampuan teknis di lapangan, tetapi juga penguatan koordinasi dan penyusunan rencana tanggap darurat yang aplikatif.

Arahan tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur Papua, Matius Fakhiri, melalui sambutan yang dibacakan oleh Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Papua, Christian Sohilait, saat membuka Workshop Kemanusiaan yang digelar di Jayapura, Rabu (26/8/2026).

Mengusung tema “Markas Tangguh, Relawan Siaga”, kegiatan ini diikuti oleh unsur pengurus PMI dari berbagai tingkatan serta mitra kemanusiaan lainnya.

Gubernur Fakhiri dalam sambutannya menekankan bahwa kondisi geografis Papua yang berat serta dinamika sosial yang kompleks menuntut kesiapan luar biasa dari seluruh elemen kemanusiaan. Menurutnya, masyarakat yang terdampak kedaruratan membutuhkan respons yang tidak hanya cepat, tetapi juga aman, tepat, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

“Dalam situasi bencana alam maupun konflik sosial, masyarakat membutuhkan kehadiran yang cepat, tepat, aman, dan manusiawi,” ujar Fakhiri.

Lebih lanjut, Gubernur mengingatkan bahwa kemampuan seorang relawan tidak boleh berhenti pada penguasaan teknis evakuasi dan pertolongan pertama semata. Relawan juga dituntut untuk memahami secara mendalam prinsip-prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, serta prosedur keselamatan yang ketat dalam menjalankan tugas di lapangan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, workshop kali ini menghadirkan materi yang komprehensif. Para peserta dibekali pengetahuan seputar Safer Access Framework (Kerangka Akses yang Lebih Aman), manajemen posko, rantai komando, asesmen kebutuhan, logistik, komunikasi, hingga pelaporan. Tidak hanya teori, peserta juga diberikan simulasi taktis dan pendampingan dalam penyusunan rencana kerja tindak lanjut.

Gubernur Fakhiri berharap workshop ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial, tetapi benar-benar mampu melahirkan kapasitas nyata yang siap diimplementasikan saat kedaruratan terjadi. Ia menekankan pentingnya pembagian peran yang jelas antara pengurus, staf, dan relawan agar setiap unsur memahami tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

“Workshop ini harus menghasilkan kapasitas nyata di lapangan. Mulai dari pembagian peran yang jelas hingga relawan yang siap ditugaskan,” tegasnya.

Selain penguatan internal, Gubernur juga meminta PMI untuk memperkuat koordinasi lintas tingkat, mulai dari PMI pusat, provinsi, hingga kabupaten dan kota. Koordinasi yang solid ini perlu didukung oleh rencana kontingensi serta operasi tanggap darurat yang dapat segera dijalankan.

Fakhiri juga menyadari bahwa kesiap-siagaan PMI tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan dari berbagai pihak. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun sinergi yang kuat, termasuk TNI-Polri, dunia usaha, akademisi, tenaga kesehatan, dan seluruh lapisan masyarakat.

“Papua tidak dapat dibangun oleh satu pihak. Papua akan semakin kuat apabila kita berjalan bersama dalam semangat gotong royong dan persaudaraan,” pesan Gubernur.

Senada dengan Gubernur, Penjabat Sekda Papua Christian Sohilait yang membacakan sambutan tersebut menambahkan bahwa tantangan di Papua, baik dari segi geografis maupun sosial, menuntut kesiapan seluruh unsur. Ia berharap hasil workshop dapat diwujudkan menjadi kapasitas nyata, termasuk kesiapan relawan dan penguatan koordinasi antar komponen PMI.

Sementara itu, Ketua PMI Papua, Zekeus Degey, menegaskan bahwa kesiapsiagaan pengurus, staf, dan relawan adalah kunci utama keberhasilan respons kedaruratan, terutama di tengah dinamika lapangan yang sering kali tidak menentu dan berisiko tinggi. Menurutnya, dalam situasi konflik sosial, tantangan yang dihadapi relawan bahkan lebih kompleks dibandingkan bencana alam.

“Selain menguasai keterampilan teknis seperti evakuasi dan pertolongan pertama, relawan juga wajib memahami dan mengamalkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, terutama prinsip kesamaan, kesukarelaan, kenetralan, dan kemandirian,” ujar Zekeus Degey.

Dengan digelarnya workshop ini, diharapkan seluruh personel PMI di Papua memiliki kesiapan mental, fisik, dan taktik yang sama, serta pemahaman regulasi yang mumpuni saat diterjunkan ke wilayah kedaruratan.

“Ketika kedaruratan terjadi, kita sudah siap, terlatih, terkoordinasi, dan hadir untuk masyarakat,” tutup Gubernur Fakhiri dalam sambutannya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *