Ruteng, NTT // divisinews.com – Keindahan alam Air Terjun Tiwu Pai, Desa Toe, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, berubah menjadi duka. Seorang pelajar SMP dilaporkan tenggelam saat berwisata di lokasi tersebut, Minggu, ( 11/1/2026).
Korban diketahui bernama Armendo W. Jeferson (14), siswa kelas IX SMP St. Fransiskus Xaverius Ruteng, asal Lembor, Kabupaten Manggarai Barat. Hingga Minggu sore, korban masih belum ditemukan dan tim SAR gabungan bersama warga terus melakukan pencarian di tengah medan yang sulit dan berisiko tinggi.
Peristiwa nahas itu terjadi saat korban bersama 12 orang teman sekolahnya mengisi waktu liburan dengan berkunjung ke objek wisata Air Terjun Tiwu Pai. Rombongan pelajar tersebut dilaporkan turun ke kolam kecil di bawah air terjun, yang oleh warga setempat dikenal dengan sebutan “tiwu”.
Saat berenang di kolam alami tersebut, korban diduga terseret arus dan tenggelam. Rekan-rekannya yang panik segera meminta pertolongan warga sekitar.
Tim pencarian gabungan yang terdiri dari Polsek Reo, Satpolair, Koramil, Polairud Reo, serta warga setempat langsung dikerahkan. Mereka menyusuri aliran Sungai Tiwu Pai dan danau alami di bawah air terjun dengan peralatan seadanya.
Namun, upaya pencarian menghadapi berbagai kendala. Arus air yang deras, dasar sungai yang licin, serta minimnya peralatan penyelaman membuat proses evakuasi berjalan lambat dan berbahaya.
Ironisnya, kawasan Air Terjun Tiwu Pai sebenarnya telah diberi larangan untuk dikunjungi, khususnya untuk aktivitas berenang. Larangan tersebut dikeluarkan karena kondisi air terjun dan kolam alaminya dinilai sangat berisiko, terutama saat debit air meningkat di musim hujan.
Hingga berita ini diturunkan, korban masih dalam pencarian intensif. Keluarga korban, pihak sekolah, dan masyarakat setempat berharap Armendo segera ditemukan.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pahit bahwa wisata alam menyimpan potensi bahaya yang sering kali tidak terlihat dari permukaan.
Tragedi di Tiwu Pai ini diharapkan menjadi pelajaran bersama agar keindahan alam tidak lagi harus dibayar dengan nyawa.
Penulis: J. Robert














