Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Example 728x250
NasionalOpini

Anti-Bullying: Menjadi Pahlawan Kebaikan” Membedah Akar, Mengapa “Pahlawan Kebaikan”?

91
×

Anti-Bullying: Menjadi Pahlawan Kebaikan” Membedah Akar, Mengapa “Pahlawan Kebaikan”?

Sebarkan artikel ini

DivisiNews-Fenomena bullying atau perundungan bukan sekadar kenakalan remaja atau anak-anak biasa. Ini adalah “kanker sosial” yang jika tidak dipotong akarnya sejak pendidikan dasar, akan merusak struktur karakter bangsa di masa depan.

Dalam perspektif pedagogi, anak-anak usia dini dan sekolah dasar merespons narasi jauh lebih baik daripada sekadar larangan. Menggunakan terminologi “Pahlawan” adalah langkah psikologis yang cerdas karena, pergeseran identitas: Kita tidak hanya melarang mereka menjadi “penjahat” (pelaku perundungan), tapi kita menawarkan identitas baru yang membanggakan: menjadi pelindung.

Pemberdayaan Bystander: Seringkali, saksi perundungan diam karena takut. Narasi “Pahlawan” mendorong mereka untuk berani melapor atau membela teman, mengubah posisi pasif menjadi aktif.

Peran Strategis Media dan Lembaga Hukum

Kolaborasi ini sangat krusial karena bullying saat ini telah bermutasi menjadi cyberbullying.

1. Media sebagai Pembentuk Persepsi (The Mirror)

Media memiliki kekuatan untuk melakukan normalisasi. Jika media (YouTube, TikTok, game) menampilkan kekerasan sebagai hal yang “keren”, anak akan menirunya.

Media harus mengambil tanggung jawab edukatif. Program sosialisasi ini harus mampu memproduksi konten visual yang menunjukkan bahwa empati jauh lebih keren daripada intimidasi. Media harus menjadi “cermin” yang memantulkan kebaikan, bukan panggung bagi perilaku toksik.

2. Lembaga Hukum sebagai Penjamin Keadilan (The Shield)

Banyak anak (dan orang tua) tidak menyadari bahwa perundungan memiliki konsekuensi hukum, bahkan di usia muda (melalui Sistem Peradilan Pidana Anak).

Kehadiran lembaga hukum dalam sosialisasi ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberikan rasa aman. Anak-anak harus tahu bahwa hukum adalah “perisai” yang melindungi hak mereka untuk belajar tanpa rasa takut. Ini adalah pendidikan kewarganegaraan paling dasar: menghormati hak asasi manusia orang lain.

Tantangan dan Rekomendasi Akademis

Secara teoretis, program ini akan sangat efektif jika memperhatikan tiga hal:

Pertama Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curriculum): Guru dan orang tua harus menjadi model “Pahlawan Kebaikan” yang nyata. Jangan sampai kita bicara anti-bullying, tapi orang dewasa di sekitar anak masih menggunakan kekerasan verbal.

Kedua Integrasi Kearifan Lokal: Masukkan nilai-nilai lokal Indonesia. Misalnya, konsep Siri’ na Pacce yang ada di Sulawesi Selatan ini, atau Tepo Seliro di Jawa. Gunakan kearifan ini untuk memperkuat narasi pahlawan yang sesuai dengan konteks budaya kita.

Ketiga Literasi Digital: Karena bullying kini berpindah ke layar, lembaga hukum harus mulai mengenalkan konsep “jejak digital” sejak dini dengan bahasa yang sangat sederhana.

Tema “Anti-Bullying: Menjadi Pahlawan Kebaikan” adalah sebuah manifesto pendidikan karakter yang progresif. Ini bukan hanya tentang menghentikan tangisan satu anak di pojok kelas, tapi tentang membangun peradaban yang berlandaskan kasih sayang dan keadilan.

> “Pendidikan tanpa karakter adalah bahaya laten; dan karakter tanpa empati adalah kekosongan jiwa. Mari kita didik anak-anak kita bukan untuk menjadi yang terkuat dengan menindas, tapi menjadi yang terhebat dengan merangkul.”

Ujar Dosen UKJP Herawati Syamsul.S.Pd.I.,M.Pd dalam Pemaparan Materi nya Pada Sosialisasi Yang diadakan DPD FERARI Sul Sel Dan Media Nasional Divisi News.com dengan Tema

“Anti Bullying : Menjadi Pahlawan Kebaikan”, yang dirangkaikan dengan Buka Puasa Bersama di Pesantren Babul Jannah Bawakaraeng Malino.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *