divisinews // KOTA PASURUAN – Gelombang kekecewaan melanda insan olahraga Kota Pasuruan. Puluhan massa yang terdiri dari atlet berprestasi, aktivis LIRA Jatim, GM-FKPPI, hingga tokoh agama dan masyarakat, menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Pemerintah Kota Pasuruan. Mereka memprotes pemangkasan drastis bonus atlet Porprov Jatim 2025 yang dinilai merendahkan martabat pejuang olahraga.
Suasana sempat memanas dan diwarnai aksi teatrikal sebagai bentuk keprihatinan atas kebijakan “efisiensi” anggaran yang dituding mencekik hak para atlet.
Kekecewaan ini berakar dari penurunan nominal bonus yang sangat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang dihimpun, perbandingan bonus tersebut adalah sebagai berikut:
Peringkat Medali Bonus Sebelumnya (Normal) Bonus Porprov 2025 (Saat Ini)
Emas Rp30.000.000 Rp10.000.000
Perak Rp20.000.000 Rp7.500.000
Perunggu Rp10.000.000 Rp5.000.000
Para atlet menilai pemangkasan ini tidak sebanding dengan keringat, air mata, hingga pengorbanan materi yang mereka keluarkan selama berlatih pagi, siang, dan malam demi mengharumkan nama Kota Pasuruan.
Puncak kekecewaan sempat viral saat beberapa atlet secara terang-terangan membuang papan simbolis nominal bonus, bahkan ada yang menolak menerimanya saat diserahkan langsung oleh Walikota Pasuruan di GOR beberapa waktu lalu.
Wahyu, perwakilan atlet Kota Pasuruan, menyampaikan curahan hatinya dengan nada bergetar. “Kami hanya minta pemerintah menghargai jerih payah kami. Pengorbanan kami berdarah-darah di lapangan, tapi bonus yang kami terima sangat tidak sebanding. Tolong berikan hak kami yang layak,” ucapnya sedih.
Ketua GM-FKPPI sekaligus Wagub LIRA Jatim, Ayi Suhaya, S.H., dalam orasinya menyampaikan kritik pedas. Ia mengirimkan karangan bunga bela sungkawa yang ditujukan kepada Walikota, Kadispora, dan Ketua KONI Kota Pasuruan sebagai simbol “matinya rasa” pimpinan daerah terhadap atlet.
“Jika tidak mampu menjalankan tugas dan mensejahterakan atlet, kami minta Walikota segera mengundurkan diri! Janji-janji kampanyemu palsu,” tegas Ayi dalam orasinya.
Tak hanya soal anggaran, Ayi juga melempar isu miring terkait ketidakharmonisan di internal Pemkot. “Kami menduga adanya ‘geng-gengan’ antara N1 (Walikota), N2 (Wakil Walikota), dan N3 (Sekda) sehingga kebijakan tidak sinkron dan merugikan kemakmuran kota, termasuk para atlet,” ungkapnya.
Aksi damai ini tidak ditemui oleh Walikota maupun Sekda. Karangan bunga dan pernyataan sikap akhirnya hanya diterima oleh Kabid Bakesbangpol, Heri. Ketidakhadiran pimpinan daerah ini semakin memicu amarah massa yang melabeli pimpinan kota sebagai sosok yang enggan menghadapi aspirasi rakyatnya sendiri.














