Example 728x250
Berita

Massa Geruduk Rumah Sahroni, Aksi Politik Bergeser Ke Ranah pribadi

9
×

Massa Geruduk Rumah Sahroni, Aksi Politik Bergeser Ke Ranah pribadi

Sebarkan artikel ini

Divisinews.com//Jakarta Gelombang demonstrasi yang belakangan mengguncang DPR dan kepolisian kini memasuki babak baru yang lebih mengkhawatirkan. Tidak lagi berhenti pada gedung parlemen atau kantor institusi, kekecewaan publik merambah ke ranah paling pribadi: rumah anggota dewan. Sore ini, Sabtu (30/8), massa menggeruduk kediaman Ahmad Sahroni di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan menjarah isi rumahnya. Peristiwa itu semakin dramatis karena disiarkan langsung melalui akun TikTok @cukupsatu_selamanya. Tayangan tersebut ditonton lebih dari 1,5 juta kali hanya dalam hitungan jam, menjadikannya bukan sekadar aksi jalanan, melainkan tontonan publik yang membetot atensi nasional.

Dalam siaran yang sama, terdengar pula suara meyakinkan penonton bahwa aksi itu tidak akan disertai pembakaran. “Tidak akan dibakar, banyak warga, rumahnya padat,” katanya. Meski demikian, visual yang memperlihatkan gerbang rumah jebol dan perabot rumah tangga diangkut massa mempertegas eskalasi kemarahan yang tak lagi mengenal batas formal. Fenomena ini mengangkat pertanyaan besar: apakah ruang privat politisi kini sah menjadi target protes? Sahroni sendiri bukan tanpa sebab berada di pusaran kritik. Ucapannya beberapa waktu lalu, yang menyebut gagasan pembubaran DPR sebagai “ide orang tolol sedunia”, dianggap banyak kalangan sebagai bentuk arogansi dan pelecehan terhadap aspirasi publik. Gelombang kritik yang tadinya berlangsung di media sosial dan forum publik, kini mewujud dalam aksi langsung di depan pintu rumahnya. Pergeseran protes ini menunjukkan dua hal. Pertama, runtuhnya jarak simbolik antara lembaga negara dengan figur politisi. Kemarahan masyarakat tidak lagi diarahkan pada abstraksi “DPR”, melainkan pada wajah personal yang dianggap mewakili kebekuan politik. Kedua, peran media sosial—khususnya TikTok—membawa dinamika baru: aksi bukan hanya dilakukan di jalan, tetapi sekaligus diproduksi sebagai tontonan real-time, menembus ruang privat dengan sorakan, komentar,dan tandasuka dari jutaan penontim dring

Example 325x300

Di satu sisi, peristiwa ini memperlihatkan tingkat frustrasi publik yang akut terhadap elite politik. Namun di sisi lain, ia juga menyalakan alarm bahaya: demokrasi bisa kehilangan mekanisme elegannya jika protes berubah menjadi perburuan pribadi yang tanpa kendali hukum. Peristiwa Tanjung Priok sore ini barangkali akan dicatat bukan hanya sebagai kasus penjarahan rumah seorang anggota DPR, melainkan sebagai simbol retaknya pagar antara kekuasaan dan warga, antara representasi politik dan rasa keadilan publik. Pertanyaannya, apakah negara akan merespons dengan mendengar suara rakyat, atau kembali menutup telinga hingga pagar-pagar rumah lainnya ikut roboh?. (*)

Editor: achmad sugiyanto
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *