BANDA ACEH (6 Februari) — Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) 2025 yang diusulkan Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Irsan Sosiawan, mencatat capaian signifikan dengan berhasil menerangi 867 rumah tangga di berbagai wilayah Aceh. Program ini menjadi langkah nyata dalam memperluas akses listrik bagi masyarakat yang selama ini belum menikmati sambungan listrik layak.
Berdasarkan laporan rekapitulasi terbaru, realisasi pemasangan instalasi listrik melalui Program BPBL telah menjangkau ratusan keluarga yang sebelumnya hidup tanpa akses energi memadai. Capaian tersebut mencerminkan komitmen kuat dalam mendorong pemerataan akses energi, khususnya bagi masyarakat yang masih membutuhkan dukungan infrastruktur dasar.
Menanggapi capaian itu, Irsan Sosiawan menegaskan bahwa listrik merupakan kebutuhan mendasar yang seharusnya dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Saya berpandangan bahwa listrik adalah kebutuhan dasar. Melalui Program BPBL ini, saya ingin memastikan masyarakat yang selama ini belum terjangkau dapat menikmati listrik secara aman dan layak,” ujar Irsan, Jumat (6/2/2026).
Hingga saat ini, Program BPBL 2025 telah menjangkau delapan kabupaten dan kota di Aceh. Rinciannya, Aceh Tengah menjadi wilayah dengan penerima terbanyak yakni 310 rumah tangga, disusul Aceh Timur 137 rumah tangga, Bireuen 120 rumah tangga, Aceh Utara 94 rumah tangga, Bener Meriah 91 rumah tangga, Aceh Tamiang 89 rumah tangga, Kota Lhokseumawe 67 rumah tangga, serta Kota Langsa 58 rumah tangga.
Irsan menegaskan bahwa pelaksanaan program ini terus dikawal secara ketat agar berjalan sesuai perencanaan dan tepat sasaran.
“Setiap tahap kami awasi dengan serius, mulai dari pendataan hingga pemasangan di lapangan, agar manfaat program ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
Ke depan, Irsan berharap Program BPBL 2025 dapat terus berlanjut secara berkelanjutan dengan pengawasan yang konsisten. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan dasar seperti listrik memiliki peran strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, serta stabilitas kehidupan sosial masyarakat Aceh, terutama di tengah proses pemulihan pascabencana yang masih berlangsung














