Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Example 728x250
Opini

Menakar “Law of Attraction”: Antara Kekuatan Pikiran dan Ketauhidan

23
×

Menakar “Law of Attraction”: Antara Kekuatan Pikiran dan Ketauhidan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Herawati Syamsul.S.Pd.I.,M.Pd

DivisiNews-Fenomena Law of Attraction (LoA) atau hukum tarik-menarik kembali menjadi primadona dalam diskursus pengembangan diri di era digital. Narasi bahwa “apa yang kita pikirkan akan kita tarik ke dalam kenyataan” begitu menggoda bagi generasi yang haus akan kepastian. Namun, sebagai masyarakat akademis sekaligus religius, penting bagi kita untuk melakukan bedah kritis: Di mana posisi LoA dalam struktur teologi Islam? Apakah ia sekadar teknik psikologi, ataukah sebuah pergeseran akidah yang halus?

Optimisme: Resonansi antara Sains dan Sunnah

Secara psikologis, LoA bekerja pada level kognitif melalui Reticular Activating System (RAS) yang membuat kita lebih peka terhadap peluang yang selaras dengan tujuan. Dalam Islam, hal ini memiliki resonansi yang kuat dengan konsep Husnudzon. Allah SWT dalam sebuah Hadits Qudsi menegaskan:

Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari & Muslim).

Pesan ini diperkuat dalam QS. Al-Baqarah: 186, di mana Allah berfirman: “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” Di sini, Islam mengajarkan bahwa energi mental yang positif bukan sekadar teknik sugesti, melainkan bentuk ibadah hati dan keyakinan penuh pada sifat Ar-Rahman Allah.

Meluruskan Subjek: Alam Semesta atau Sang Pencipta?

Titik kritis LoA populer adalah personifikasi “Alam Semesta” sebagai pengabul keinginan. Dalam tauhid, alam semesta adalah entitas yang tunduk (musakhar), bukan pemegang kendali. Islam meluruskan bahwa yang bekerja bukanlah hukum mekanis semesta, melainkan Iradah (Kehendak) Allah.

Kita harus waspada agar tidak terjebak pada pengabaian peran Tuhan. Dalam QS. At-Talaq: 3, Allah mengingatkan: “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.” Ayat ini menegaskan bahwa visualisasi kita hanyalah proposal, sementara “surat keputusan” mutlak milik Allah.

Syariat Ikhtiar: Lebih dari Sekadar Visualisasi

Islam menolak konsep “angan-angan kosong” (al-amani). Berbeda dengan LoA yang kadang terjebak pada visualisasi pasif, Islam mewajibkan Amal Sholeh (aksi nyata). Hal ini ditegaskan dalam QS. An-Najm: 39:

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” Pikiran positif adalah bahan bakar, namun usaha adalah mesinnya. Perubahan nasib tidak terjadi hanya dengan membayangkan, melainkan dengan mengubah etos kerja dan karakter, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ar-Ra’d: 11: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Manifestasi dalam Bingkai Tawakal

Law of Attraction dapat kita adopsi sebagai teknik manajemen kognitif untuk membangun mentalitas pemenang. Namun, ia tidak boleh berdiri sebagai “berhala” baru. Islam melengkapi LoA dengan dimensi ketangguhan mental: jika apa yang kita “tarik” belum terwujud, itu bukan karena vibrasi kita lemah, melainkan karena ada hikmah dalam takdir yang lebih baik.

Bagi seorang Muslim, LoA seharusnya bertransformasi menjadi Law of Dzikir dan Doa Kita tidak hanya menarik benda yang diinginkan, tetapi menarik rahmat dari Allah yang Maha Memberi. Dengan menempatkan pikiran positif di bawah payung Tauhid, kita mendapatkan dua hal sekaligus: keberhasilan di dunia dan ketenangan di akhirat.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *