Divisinews.com // Jayapura — Kabut asap tipis menyelimuti langit Kota dan Kabupaten Jayapura, Papua, sejak 8 Oktober 2026. Fenomena ini dipastikan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Nugini serta sejumlah wilayah di Papua, yang terbawa angin hingga ke ibu kota Provinsi Papua tersebut.
Dampak paling terasa adalah terganggunya jarak pandang di Bandara Internasional Sentani. Selama tiga hari terakhir, jarak pandang menurun hingga lima kilometer, menyebabkan tujuh penerbangan mengalami keterlambatan dengan tujuan terbanyak ke Wamena dan Timika. Sejumlah pesawat kargo juga terpaksa membatalkan keberangkatan ke Wamena.
“Kejadian ini terjadi sejak 10 Oktober 2026 sampai sekarang. Jarak pandang berbahaya kalau dipaksakan, sehingga kita ambil keputusan demi keselamatan penumpang,” ujar Branch Communication & CSR Department Head Bandara Internasional Sentani, Syahrial Sembiring.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Wilayah V Jayapura, Sulaiman, memastikan kabut yang menyelimuti Kota Jayapura merupakan asap kiriman dari luar wilayah.
“Angin membawa asap karhutla hingga menyelimuti Kota Jayapura,” kata Sulaiman kepada wartawan di Jayapura.
Berdasarkan pemantauan hotspot pada 13 Oktober 2026 pukul 02.00–18.00 WIT, terpantau 79 titik api di Provinsi Papua Selatan yang tersebar di Kabupaten Merauke (70 titik), Boven Digoel (tujuh titik), dan Mappi (dua titik). Selain dari Papua Selatan, asap dari wilayah utara Papua Nugini juga terbawa angin dari tenggara menuju barat-barat laut ke arah Jayapura.
Ketua Tim Kerja Layanan Meteorologi Publik BMKG, Finnyalia Napitupulu, menjelaskan bahwa partikel kering di atmosfer dari pembakaran bahan organik menjadi penyebab utama kekaburan udara.
“Fenomena udara kabur di Kota dan Kabupaten Jayapura sejak 8 Oktober 2026 merupakan kabut asap tipis. Asap ini berasal dari kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Papua dan Papua Nugini,” ujar Finnyalia.
Sementara itu, Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Naufal Rieki, menambahkan bahwa berdasarkan analisis citra satelit dan simulasi Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), partikel asap juga terbawa dari Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menuju Jayapura.
“Asap ini berasal dari sejumlah wilayah di Papua hingga Papua Nugini yang terbawa angin menuju Jayapura,” kata Naufal saat dikonfirmasi, Rabu (14/10/2026).
Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) periode 10–12 Oktober 2026, tingkat kualitas udara di Kota dan Kabupaten Jayapura berada pada kategori sedang. Parameter partikel halus PM2.5 tercatat berkisar antara 66 hingga 73.
Partikel mikroskopis tersebut berpotensi terhirup hingga ke saluran pernapasan bagian dalam sehingga memerlukan kewaspadaan masyarakat. Meski demikian, BMKG mencatat bahwa kontribusi asap dari karhutla di Merauke terhadap kekaburan udara di Jayapura dinilai relatif kecil, karena citra satelit Himawari-9 tidak mengidentifikasi secara jelas pergerakan asap dari wilayah tersebut menuju Jayapura.
Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, mengatakan bahwa pemerintah kota telah berkoordinasi dengan BMKG untuk mengetahui penyebab munculnya asap yang menyelimuti wilayah tersebut.
“Kami sudah koordinasi dengan BMKG, sumber asap diduga berasal dari dua wilayah, yakni daerah sekitar Papua Nugini dan Merauke. Di sana juga terjadi kebakaran,” kata Rustan kepada awak media di Jayapura, Rabu (14/10/2026).
Rustan menjelaskan bahwa perbedaan kondisi cuaca antara Jayapura dan daerah sumber kebakaran turut memengaruhi pergerakan asap. Ketika sejumlah daerah mengalami musim kering dan kebakaran lahan, Kota Jayapura justru masih mengalami hujan. Namun, hujan tidak sepenuhnya menghalangi asap dari daerah lain terbawa angin hingga memasuki wilayah perkotaan.
Ia menegaskan bahwa berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan dan BMKG, kualitas udara saat ini masih dalam kondisi aman. “Informasi yang kami tangkap, untuk minggu ini kondisi udara kita masih aman, masih bisa dihirup tanpa menggunakan masker,” ujarnya.
Kendati demikian, pemerintah tetap waspada dan meminta petugas meningkatkan patroli untuk mendeteksi kemungkinan kebakaran lahan di wilayah Jayapura.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.
“Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas. Jika mengalami sesak napas, terutama bagi yang memiliki gangguan pernapasan, segera mendatangi fasilitas kesehatan,” ujar Finnyalia.
BMKG juga menyarankan warga menghindari pembakaran sampah atau lahan secara terbuka serta menutup pintu dan jendela ketika kabut asap menebal. Pemerintah Kota Jayapura sendiri telah mengimbau warganya untuk tidak membakar sampah sembarangan dan tetap memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Fenomena kabut asap ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, bergantung pada arah angin dan kondisi cuaca di wilayah sumber kebakaran. Masyarakat diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah.












