Example 728x250
Berita

Agar Anak Hemodialisis Tidak Merasa Sendirian

25
×

Agar Anak Hemodialisis Tidak Merasa Sendirian

Sebarkan artikel ini

Dr. Amelia Arnis, M.Nurs

DivisiNews// Suara mesin hemodialisis terdengar pelan di ruang perawatan anak. Dalam penelitian yang dilakukannya, Amelia Arnis kerap berinteraksi dengan anak-anak yang harus menjalani terapi panjang di usia yang seharusnya dipenuhi bermain dan belajar. Sebagian tampak diam menahan lelah, sebagian lain tetap berusaha tersenyum meski harus bolak-balik ke rumah sakit.
Namun, ada satu hal yang paling membekas bagi Amelia: harapan mereka untuk sembuh.
“Anak-anak HD itu luar biasa. Mereka lelah, tetapi tidak pernah benar-benar menyerah. Semangat mereka membuat saya ingin terus membuat sesuatu yang lebih berguna bagi mereka,” kata dosen Poltekkes Kemenkes Jakarta I tersebut.
Pengalaman meneliti dan berinteraksi dengan anak-anak dengan gagal ginjal kronis itulah yang kemudian membawanya mengembangkan PANDA (Panduan Asuhan Keperawatan Anak dengan Hemodialisis), sebuah aplikasi pendamping digital berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk anak yang menjalani hemodialisis dan keluarganya.
Bagi Amelia, PANDA bukan sekadar inovasi teknologi. Aplikasi tersebut lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Ia melihat banyak anak dan orang tua masih kesulitan memahami penyakit yang harus mereka hadapi setiap hari.
“Sebagian besar perawatan anak HD sebenarnya terjadi di rumah, bukan di rumah sakit. Sementara keluarga sering merasa bingung dan takut ketika kondisi anak berubah,” ujarnya.
Berangkat dari situasi tersebut, Amelia mengembangkan PANDA. Melalui PANDA, anak dan orang tua dapat mencatat kondisi harian, membaca materi sederhana tentang hemodialisis, hingga berbincang dengan chatbot AI bernama PANDAbot menggunakan bahasa sehari-hari. PANDA juga memungkinkan anak dan orang tua merasa lebih didengar di tengah proses terapi yang panjang dan melelahkan.
Berbeda dengan chatbot konvensional yang hanya menyediakan pilihan pertanyaan tertentu, PANDAbot menggunakan teknologi AI generative yang mampu merespons pertanyaan terbuka dengan bahasa yang disesuaikan berdasarkan usia pengguna. Anak usia sekolah, remaja, maupun orang tua akan menerima penjelasan berbeda meskipun menanyakan hal yang sama.
Menariknya, PANDA juga dirancang bukan hanya sebagai media edukasi, tetapi sebagai “Sahabat Anak Hebat”. Anak-anak dapat menyampaikan rasa takut, lelah, maupun kekhawatiran mereka selama menjalani terapi.

Baca Juga  Kapolresta Mamuju Pimpin Langsung Pengamanan Aksi Unras Aliansi Mahasiswa Sulbar Dikantor Gubernur Sulbar

“AI ini bukan dibuat karena sekarang semua penelitian harus AI. Teknologi ini dipilih karena anak-anak membutuhkan komunikasi yang lebih fleksibel, lebih personal, dan lebih mudah dipahami,” kata Amelia.
Perjalanan menghadirkan PANDA tidak berlangsung mudah. Selama menempuh pendidikan doktor Ilmu Keperawatan yang diselesaikannya dalam waktu 3 tahun 8 bulan, Amelia harus belajar memahami dunia yang sebelumnya jauh dari kesehariannya: teknologi informasi.
Ia mengaku harus mempelajari istilah-istilah IT, memahami sistem AI, hingga menjembatani komunikasi antara dunia kesehatan dan pengembang teknologi. Dalam prosesnya, pengembangan PANDA bahkan sempat terkendala akibat pergantian developer.
“Sebagai perawat, saya harus belajar bahasa teknologi. Di sisi lain, tim IT juga harus memahami kebutuhan klinis anak-anak HD. Itu tantangan terbesar,” ujarnya.
Disertasi tersebut dibimbing oleh Prof. Yeni Rustina, S.Kp., M.App.Sc. Ph.D., Dr. Allenidekania, S.Kp., MSc., dan Bapak Fariz Darari, S.Kom., M.Sc., Ph.D. PANDA menjadi salah satu inovasi berbasis AI pertama di Indonesia yang secara khusus dikembangkan untuk anak yang menjalani hemodialisis.
Hasil penelitian menunjukkan penggunaan PANDA berpotensi meningkatkan kualitas hidup anak menurut penilaian anak dan orang tua. Selain membantu edukasi dan pemantauan kondisi anak, aplikasi tersebut juga membantu anak merasa lebih didampingi selama menjalani terapi jangka panjang.
Tidak lama setelah menyelesaikan promosi doktor pada 20 April 2026 di Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, Amelia mengikuti Lomba Poster Nasional Dosen dalam rangka Dies Natalis Poltekkes Kemenkes Mataram. Poster yang dipresentasikan merupakan hasil penelitian disertasinya tentang PANDA.
Ia mengaku awalnya hanya ingin memperkenalkan hasil penelitian agar lebih dikenal masyarakat luas. Namun, poster tersebut justru membawanya meraih Juara II tingkat nasional.
“Saya tidak menyangka poster itu justru membawa PANDA dikenal lebih luas,” katanya sambil tersenyum.
Sejak menyelesaikan pendidikan doktoralnya, berbagai peluang baru mulai berdatangan, mulai dari tawaran kolaborasi penelitian bersama BRIN, kesempatan melanjutkan riset postdoktoral, hingga menjadi narasumber terkait pengembangan riset berbasis AI di bidang kesehatan.
Ke depan, Amelia berharap PANDA dapat dikembangkan lebih luas dan terintegrasi dengan layanan kesehatan anak di Indonesia. Ia membayangkan suatu hari aplikasi tersebut dapat dihubungkan dengan mesin hemodialisis maupun alat medis lainnya sehingga tenaga kesehatan dapat memantau kondisi anak bahkan saat mereka berada di rumah.
Menurutnya, pendekatan AI seperti PANDA juga memiliki potensi untuk diterapkan pada berbagai penyakit kronis lainnya pada anak, dengan penyesuaian kebutuhan edukasi dan pemantauan masing-masing pasien.
Bagi Amelia, penelitian seharusnya tidak berhenti menjadi dokumen akademik yang tersimpan di perpustakaan. Penelitian harus hidup dan hadir di tengah masyarakat.
“Kalau penelitian bisa membuat anak-anak merasa lebih tenang, lebih paham tentang penyakitnya, dan merasa ditemani, itu sudah sangat berarti,” ujarnya.
Dari ruang hemodialisis anak, Amelia belajar bahwa teknologi tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang rumit. Kadang, teknologi yang paling berarti adalah teknologi yang mampu membuat seorang anak merasa tidak sendirian.

Baca Juga  Peresmian Gedung Yayasan Bunayya Qurrota'aini: Langkah Menuju Pendidikan Berkualitas

 

“Merawat dengan ilmu, mendampingi dengan hati.”

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *