Example 728x250
BeritaDaerah

Dishutlh Papua Latih 50 Pengelola Ekowisata, Yaconias: Manfaatkan Hutan Tanpa Menebang Kayu

49
×

Dishutlh Papua Latih 50 Pengelola Ekowisata, Yaconias: Manfaatkan Hutan Tanpa Menebang Kayu

Sebarkan artikel ini

Divisinews.com //JAYAPURA – Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (Dishutlh) Provinsi Papua menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Masyarakat Pengelolaan Ekowisata di Horison Hotel Kotaraja, Jayapura, Selasa (22/9/2026).

Pelatihan selama tiga hari itu diikuti 50 peserta dari Kelompok Tani Hutan dan penggerak ekowisata binaan Dishutlh Papua.

Peserta berasal dari Kabupaten Kepulauan Yapen, Biak Numfor, Sarmi, Kabupaten Jayapura, dan Kota Jayapura. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang konsep ekowisata, kemampuan mengelola dan mengembangkan destinasi ekowisata berbasis potensi alam dan budaya Papua, menciptakan peluang usaha, serta mendorong peningkatan pendapatan masyarakat. Selain itu, pelatihan diarahkan agar masyarakat semakin terlibat menjaga keanekaragaman hayati.

Plt. Kepala Dishutlh Provinsi Papua Yaconias Maintindom, S.P., M.Si. menuturkan, ekowisata akan membuat masyarakat hutan Papua memiliki pariwisata berwawasan lingkungan. Menurut dia, pengelolaan ekowisata mengutamakan perlindungan alam, pemberdayaan potensi alam, peningkatan ekonomi masyarakat lokal, dan penambahan wawasan masyarakat hutan.

Yaconias menegaskan, ekowisata menjadi salah satu solusi peningkatan ekonomi masyarakat. Karena itu, masyarakat perlu didampingi, dibantu, dan dilatih agar tidak bergantung pada penebangan kayu.

“Ekowisata menjadi salah satu solusi peningkatan ekonomi masyarakat. Masyarakat harus didampingi, dibantu, dan dilatih sehingga tidak harus menebang kayu, tetapi bagaimana menyiapkan keindahan dalam hutan dan ekologi sekitar,” ujarnya.

Dia mencontohkan, keberadaan cenderawasih dapat dijadikan daya tarik wisata. Potensi sagu dan tempat-tempat indah di dalam hutan juga bisa dikemas dengan baik, dipromosikan masyarakat, serta didukung infrastruktur sederhana.

“Misalnya, ketika ada cenderawasih, itu bisa dijadikan tempat wisata. Ada ekonomi yang tumbuh, ada sagu, ada tempat indah yang dikemas dengan baik dan dipromosikan oleh masyarakat. Infrastruktur hutan juga disiapkan, contohnya rumah beratap sagu. Ini menunjukkan ada ekonomi berbasis alam, menggunakan hutan sebagai tempat usaha. Silakan dilakukan sepanjang tidak merusak hutan,” tuturnya.

Sementara itu, Asisten III Setda Provinsi Papua Suzana Wanggai berpesan agar kekayaan adat dijaga dan menjadi bagian dari pembangunan Papua. Menurutnya, masyarakat Papua harus menjadi tuan di tanah sendiri dan menghormati kearifan lokal.

“Papua memiliki kekayaan alami, kekayaan adat, warisan yang akan datang, perlu dijaga karena bagian membangun Papua berkelanjutan. Ekowisata memperkuat ekonomi masyarakat untuk menjaga kelestarian Papua,” ujar Suzana.

Suzana berharap peserta dapat saling berbagi pengalaman agar sukses mengelola ekowisata ke depan. Dia menilai pengelolaan ekowisata perlu dibawa dalam satu cerita sehingga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat, termasuk mama-mama.

“Masyarakat bukan hanya jadi penonton di kampung sendiri. Masyarakat Papua harus menjadi tuan di tanah sendiri, menjadi pemilik, memperkuat lembaga masyarakat, memperluas layanan, dan menghormati kearifan lokal masyarakat Papua,” tuturnya.

Melalui pelatihan ini, Dishutlh Papua berharap pengelolaan ekowisata di lima kabupaten/kota semakin tertata. Masyarakat diharapkan tidak hanya menjaga hutan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan dari potensi alam dan budaya yang dimiliki Papua.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *