Example 728x250
DaerahBeritaOpini

Melangkah di Bumi Cenderawasih: Ketika Cek Kesehatan Gratis Menjadi Jawaban bagi Warga Jayapura

35
×

Melangkah di Bumi Cenderawasih: Ketika Cek Kesehatan Gratis Menjadi Jawaban bagi Warga Jayapura

Sebarkan artikel ini

Dari Balik Antrean di Kampung Ifar Besar

Sinar matahari pagi menembus celah-celah daun pohon pinang yang rindang di Kampung Ifar Besar, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. Udara dingin khas Papua masih terasa menyengat ketika Ibu Ineke Violeta Fami, Ketua PKK Kampung Adat Ifar Besar, sibuk mempersiapkan meja-meja panjang di halaman balai kampung. Rabu pagi di awal Mei 2026 itu bukanlah hari biasa. Puluhan warga dari enam kampung sekitar—Yahim, Yobe, Kenzio, Hobong, Ifale, dan Ifar Besar sendiri—mulai berdatangan. Mereka tidak datang untuk sekadar berkumpul, melainkan untuk satu tujuan: memeriksakan kesehatan secara gratis.

Di antara kerumunan, tampak Nenek Maria (bukan nama sebenarnya), seorang perempuan lanjut usia dengan rambut putih yang ditutupi kain serut khas Papua. Dengan tongkat di tangan kanan dan tangan kiri menggenggam erat kartu antrean, ia duduk di kursi plastik yang disediakan. Matanya menyipit melihat para petugas kesehatan yang sibuk menyiapkan alat-alat medis. “Sudah bertahun-tahun saya tidak periksa ke puskesmas. Jauh, dan tidak punya ongkos,” katanya lirih kepada petugas yang mendekatinya.

Hari itu, Nenek Maria dan puluhan warga lainnya mendapatkan kesempatan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap tanpa harus merogoh kocek sepeser pun—mulai dari pengecekan gula darah, kolesterol, deteksi malaria, HIV, hingga rekam jantung. Bahkan, bagi ibu-ibu yang sudah berkeluarga, tersedia layanan IVA test untuk deteksi dini kanker serviks.

Di Balik Angka: Gugusan Data yang Berbicara

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digulirkan secara nasional oleh Kementerian Kesehatan sejak awal 2025 telah menjelma menjadi lebih dari sekadar kebijakan. Ia adalah gerakan peradaban kesehatan yang menggeser paradigma dari kuratif (mengobati setelah sakit) menjadi preventif (pencegahan dan deteksi dini). Hingga awal Agustus 2026, Kemenkes mencatat angka keikutsertaan CKG telah menembus 73,8 juta penduduk di 38 provinsi, melampaui rekor sepanjang tahun 2025 yang mencatatkan 70 juta peserta.

Namun, angka-angka nasional ini menemukan maknanya di tingkat tapak, khususnya di Kabupaten Jayapura, Papua. Sebuah wilayah dengan tantangan kesehatan yang tidak main-main. Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura mencatat bahwa hingga triwulan pertama 2026, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Kota Jayapura mencapai 11.235 kasus, menjadi yang tertinggi di Provinsi Papua.  Sementara itu, kasus Tuberkulosis (TBC) sepanjang tahun 2025 tercatat 3.007 kasus, dan pada periode Januari hingga Mei 2026, ditemukan tambahan 932 kasus baru.

Malaria pun masih menjadi momok. Kabupaten Jayapura merupakan wilayah endemis malaria dengan angka Annual Parasite Incidence (API) mencapai 380 per 1.000 penduduk.  Dalam lima tahun terakhir, kasus positif malaria melonjak tajam—dari 26.218 kasus pada 2021 menjadi 66.590 kasus pada akhir 2025. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Lilian Suebu, menyebut lonjakan ini justru terjadi karena masifnya penemuan kasus berkat program deteksi aktif. “Angka ini naik karena semakin banyak penemuan kasus, makin banyak juga yang diobati,” jelasnya.

Di tengah karut-marut data epidemiologis ini, program CKG hadir sebagai benteng pertahanan pertama. “Melalui pemeriksaan dini, masyarakat dapat mengetahui kondisi tubuh serta risiko penyakit yang mengancam seperti gangguan jantung, tekanan darah tinggi, hingga penyakit degeneratif lainnya sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat,” ujar Ketua TP PKK Kabupaten Jayapura, Dewi Sartika Wonda.

“Kami Tidak Perlu Repot Lagi”: Pelayanan yang Menjemput Bola

Salah satu kunci keberhasilan program CKG di Jayapura adalah pendekatan jemput bola. Dinas Kesehatan setempat tidak hanya menunggu warga datang ke puskesmas, tetapi langsung mendatangi sekolah-sekolah dan kampung-kampung.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Anton Mote, menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan gratis bagi anak usia sekolah dilakukan dengan cara tenaga kesehatan langsung mendatangi sekolah. “Langkah ini dilakukan agar para orang tua tidak perlu repot-repot lagi mengantar anak ke puskesmas untuk memeriksa kesehatan mereka,” katanya.

“Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis ini merupakan kesempatan yang wajib dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat di Kabupaten Jayapura,” tegas Dewi Sartika Wonda. Ia mengajak seluruh kader PKK menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk menyebarluaskan informasi kesehatan bagi keluarga dan tetangga. “Dengan meningkatnya kesadaran untuk memeriksa kesehatan, kami optimis kualitas derajat kesehatan masyarakat akan semakin membaik dan angka penularan serta penyakit kronis dapat ditekan sejak dini,” ujarnya.

Malaria, TBC, dan HIV: Tiga Musuh yang Harus Dikalahkan

Di balik gemerlap program CKG, ada tiga penyakit menular yang menjadi perhatian serius di Kabupaten Jayapura: malaria, tuberkulosis, dan HIV/AIDS. Ketiganya adalah musuh bersama yang harus dilawan dengan strategi terpadu.

Malaria: Dari Angka Melonjak Menuju Eliminasi

Malaria di Kabupaten Jayapura memiliki cerita yang unik. Di satu sisi, angka kasus positif terus melonjak—66.590 kasus pada akhir 2025. Namun, di sisi lain, lonjakan ini adalah konsekuensi dari keberhasilan program penemuan kasus aktif melalui strategi TOKEN (Temukan, Obati, Kendalikan).

 

Salah satu intervensi yang dilakukan adalah MDA (Mass Drug Administration) atau pemberian obat pencegahan malaria massal yang dikenal dengan program MOMAL. Program ini diuji coba di dua desa di Kabupaten Jayapura pada tahun 2023 dan berhasil menurunkan insiden malaria secara signifikan.  “Sentani dan Yapsi, wilayah ini menjadi lokus dalam percepatan eliminasi oleh Kementerian Kesehatan,” ungkap Lilian Suebu. Pemerintah Kabupaten Jayapura menargetkan pada tahun 2030 wilayah ini bebas malaria.

TBC dan HIV: Deteksi Dini yang Menyelamatkan Nyawa

Sementara itu, kasus TBC dan HIV/AIDS juga menjadi tantangan. Dinas Kesehatan Kota Jayapura mengintensifkan upaya deteksi dini terhadap kedua penyakit ini. “Kami sangat berharap intensifikasi deteksi dini ini dapat mempercepat penemuan kasus, menekan angka penularan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang terdampak,” ujar Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kota Jayapura, Yusnita.

Melalui program CKG, pemeriksaan HIV dan TBC menjadi bagian dari paket layanan gratis. Bahkan, dalam kegiatan di Kampung Ifar Besar, layanan deteksi HIV dan malaria tersedia bagi seluruh peserta.  Ini adalah langkah penting mengingat stigma dan keterbatasan biaya sering menjadi penghalang bagi masyarakat untuk memeriksakan diri.

Sentuhan Humanis dari Berbagai Elemen

Program kesehatan gratis di Jayapura tidak hanya digerakkan oleh pemerintah daerah. Berbagai elemen masyarakat turut ambil bagian, menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kesehatan adalah tanggung jawab bersama.

Satgas Yon Parako 466 Pasgat, misalnya, mendirikan posko kesehatan lapangan di Desa Heinekombe. Dengan meja lipat dan perlengkapan medis darurat, mereka melayani warga dengan penuh dedikasi. Dokter Satgas, Kapten Kes dr. Hamdi, mengatakan pelayanan yang diberikan cukup komprehensif meski dilaksanakan di posko lapangan. “Selain pemeriksaan fisik umum, kami juga melakukan pengecekan tekanan darah bagi masyarakat yang datang berkunjung,” ujarnya.

Suasana humanis terlihat saat para prajurit berinteraksi dengan ramah kepada warga, termasuk anak-anak yang awalnya tampak takut. Pendekatan ini penting untuk menghilangkan rasa takut sekaligus memantau kondisi kesehatan serta tumbuh kembang mereka.

Hal serupa dilakukan oleh Satgas Yonif 521/DY yang mendatangi rumah-rumah warga di Kampung Muaranawa. Mereka memberikan layanan pemeriksaan tekanan darah, pembagian obat-obatan, hingga konsultasi kesehatan. Bapak Yopi Enumbi (55), tokoh masyarakat setempat, menyampaikan apresiasi dengan mata berkaca-kaca: “Kami merasa teramat bersyukur sekaligus berterima kasih banyak kepada bapak-bapak TNI yang sudah sudi datang melangkah kaki demi memberikan pelayanan kesehatan secara gratis bagi kami. Kegiatan humanis seperti ini dirasakan sangat membantu kehidupan masyarakat kecil, terkhusus bagi kalangan warga yang selama ini didera kesulitan besar untuk menjangkau pusat fasilitas kesehatan.”

Akhir Cerita yang Tak Berakhir: Harapan di Ujung Pemeriksaan

Ketika senja mulai turun di Kampung Ifar Besar, Nenek Maria tersenyum lemah. Hasil pemeriksaannya menunjukkan tekanan darah tinggi dan kadar gula yang di atas normal. Namun, ia tidak panik. Petugas kesehatan telah memberinya obat dan jadwal kontrol di puskesmas terdekat.

 

“Setiap kami turun ke kampung, pertanyaan warga selalu sama: kapan ada cek kesehatan gratis? Nah, sekarang kami wujudkan. Ini jawaban atas harapan yang mereka sampaikan selama ini,” ujar Dewi Sartika Wonda, Ketua TP PKK Kabupaten Jayapura. Ia menambahkan dengan tegas: “Jangan tunggu sakit baru berobat. Kalau rutin jaga kesehatan, umur kita panjang, bisa lihat cucu tumbuh, sampai lihat cicit lahir dan besar. Itu kebahagiaan yang tak ternilai harganya.”

Program Cek Kesehatan Gratis dengan tema “Cegah Dini, Tuntas Obati” bukan sekadar slogan. Ia adalah filosofi yang dihidupkan melalui pelayanan nyata di Kampung Ifar Besar, Desa Heinekombe, dan berbagai pelosok lainnya di Jayapura. Ia adalah bukti bahwa kehadiran negara terasa di ujung jalan yang berbatu, di balik meja panjang yang sederhana, dan di tangan-tangan hangat para tenaga kesehatan serta aparat yang rela melangkah jauh demi satu nyawa yang terselamatkan.

Epilog: Sebuah Pergeseran Paradigma

Seperti yang tergambar dalam program CKG secara nasional, esensi utama dari seluruh upaya ini adalah pergeseran paradigma kesehatan: dari yang semula cenderung bertumpu pada pendekatan kuratif, kini bergeser secara fundamental menuju penguatan promotif dan preventif.

Di Jayapura, pergeseran ini menemukan wajahnya yang paling nyata. Warga yang dulunya hanya berobat saat sakit parah, kini mulai sadar untuk memeriksakan diri sebelum gejala muncul. Para orang tua yang dulu enggan mengantar anak ke puskesmas karena biaya dan jarak, kini mendapat layanan langsung di sekolah. Penderita malaria yang dulu ditemukan dalam kondisi berat, kini terdeteksi sejak dini melalui program jemput bola.

Inilah yang disebut sebagai revolusi kesehatan dari pinggiran: sebuah gerakan yang dimulai dari kesadaran bahwa mencegah itu lebih baik daripada mengobati, dan bahwa setiap warga negara, di mana pun ia berada, berhak mendapatkan akses kesehatan yang layak dan gratis.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *