MAJALENGKA/DivisiNews, – Persoalan sampah bukan lagi sekadar urusan membuang limbah pada tempatnya, melainkan sebuah tantangan besar yang memerlukan kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat. Menyadari krusialnya masalah ini, Komisi III DPRD Kabupaten Majalengka melakukan kunjungan kerja langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang berlokasi di Desa Heuleut, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka, pada Kamis (4/6/2026).
Kunjungan lapangan ini bertujuan untuk melihat secara riil kondisi daya tampung serta tata kelola pembuangan akhir yang kian hari kian terbebani.
Langkah taktis yang diambil oleh para wakil rakyat ini didasari oleh kekhawatiran atas terus meningkatnya volume sampah harian yang masuk ke TPA Heuleut. Jika pola konsumsi dan pembuangan masyarakat tidak segera diubah, tempat pembuangan tersebut dikhawatirkan akan mengalami kelebihan muatan (overload) dalam waktu dekat. Oleh karena itu, Komisi III memandang perlu adanya evaluasi menyeluruh sekaligus edukasi yang lebih masif mengenai sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Di sela-sela peninjauan tersebut, Ketua Komisi III DPRD Majalengka, Iing Misbahuddin, memberikan penegasan yang cukup mendalam mengenai filosofi penanganan kebersihan modern. Beliau menyampaikan bahwa urusan sampah tidak bisa lagi dibebankan hanya kepada petugas kebersihan atau pemerintah daerah semata. Menurutnya, setiap individu memiliki andil dan tanggung jawab yang sama besar terhadap kelestarian lingkungan sekitar.
“Sampah adalah masalah bersama. Kita perlu tahu ke mana sampah kita berakhir,” ujar Iing Misbahuddin, Jumat (5/6/2026).
Lebih lanjut, Iing menekankan bahwa pola pikir konvensional masyarakat yang sekadar “melempar” sampah ke tong sampah harus segera ditingkatkan ke level yang lebih tinggi. Saat ini, tantangan terbesar adalah bagaimana menekan produksi sampah tersebut sejak dari sumbernya. Kesadaran untuk melacak alur pembuangan diharapkan dapat menggugah empati warga agar tidak asal membuang barang yang masih bisa dimanfaatkan.
Politisi ini juga mengajak masyarakat Majalengka untuk mulai peduli terhadap langkah-langkah kecil yang bisa diinisiasi dari lingkungan paling intim, yaitu rumah tangga. Memilah sampah organik dan anorganik serta berkomitmen untuk membatasi penggunaan kantong plastik sekali pakai adalah tindakan nyata yang sangat dinantikan. Langkah sederhana ini, jika dilakukan secara serentak, dipercaya mampu memberikan dampak instan yang sangat signifikan dalam memperpanjang usia pakai TPA.
Melalui gerakan pemilahan dari rumah, beban operasional dan volume tumpukan materi di TPA Heuleut dipastikan akan berkurang drastis.
Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos yang bernilai guna, sementara sampah plastik dapat disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang. Sinergi antara pemilahan di hulu dan pengelolaan di hilir inilah yang menjadi kunci utama terwujudnya Majalengka yang bersih dan sehat.
(Asep Iskandar)














