DIVISI NEWS, Pancasila sejak awal dirumuskan oleh Soekarno sebagai dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa. Ia bukan sekadar simbol formal dalam upacara kenegaraan, melainkan nilai yang seharusnya hidup dalam perilaku sehari-hari. Namun di era modern—yang ditandai dengan arus globalisasi, digitalisasi, dan kompetisi ekonomi—nilai-nilai Pancasila tampak semakin memudar, terutama di kalangan generasi muda.
Salah satu gejala paling nyata adalah menguatnya individualisme. Sila ke-3, Persatuan Indonesia, semakin tergerus oleh polarisasi sosial, baik karena perbedaan politik, agama, maupun identitas lainnya.
Media sosial yang seharusnya menjadi ruang dialog justru sering berubah menjadi arena konflik. Hoaks, ujaran kebencian, dan fanatisme sempit dengan mudah menyebar, menandakan lemahnya internalisasi nilai kebhinekaan.
Di sisi lain, sila ke-5, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga menghadapi ujian serius. Ketimpangan ekonomi yang masih tinggi, akses pendidikan yang belum merata, hingga praktik korupsi menunjukkan bahwa nilai keadilan belum sepenuhnya terwujud. Ironisnya, ketika masyarakat melihat elite politik dan pejabat publik tidak memberi teladan, kepercayaan terhadap nilai Pancasila ikut terkikis.
Lunturnya Pancasila juga dipengaruhi oleh cara kita mendidik. Pendidikan Pancasila sering kali hanya bersifat teoritis dan hafalan, bukan pembentukan karakter. Padahal, nilai seperti gotong royong, toleransi, dan kejujuran tidak cukup diajarkan di ruang kelas—ia harus dicontohkan dan dilatih dalam kehidupan nyata.
Namun menyalahkan modernitas sepenuhnya juga keliru. Tantangan zaman justru bisa menjadi peluang untuk mengaktualisasikan Pancasila dengan cara baru. Teknologi, misalnya, bisa digunakan untuk menyebarkan nilai toleransi dan solidaritas. Generasi muda juga memiliki potensi besar untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong melalui gerakan sosial dan komunitas digital.
Kuncinya terletak pada keteladanan dan konsistensi. Negara, melalui kebijakan yang adil dan transparan, harus menjadi contoh nyata penerapan Pancasila. Begitu pula masyarakat, yang perlu kembali menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam bertindak, bukan sekadar slogan.
Pada akhirnya, lunturnya Pancasila bukanlah takdir, melainkan peringatan. Jika dibiarkan, ia bisa menggerus identitas bangsa. Tetapi jika disadari dan diperbaiki, Pancasila justru bisa menjadi fondasi kuat untuk menghadapi era modern tanpa kehilangan jati diri.
Nama : Megan Aryaduta / 251090200675













