Divisinews.com//PATI– Deretan gabah menguning yang dijemur di teras rumah warga Desa Sukoharjo, Kayen, Pati menjadi pemandangan biasa saat musim panen tiba. Tapi tahun ini, senyum petani tak secerah warna padi. Mereka resah karena meski harga jual padi naik, biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga justru naik lebih cepat.
Dari pantauan di lapangan, puluhan terpal berisi gabah baru terlihat dijemur di bawah terik matahari. Panen kali ini memang bagus, namun para petani mengaku tidak bisa tertawa lepas.
“Harga gabah kering sekarang Rp6.200/kg, naik dari tahun lalu. Tapi pupuk, obat hama, sama solar buat traktor naik semua, sekitar 10%. Sembako di warung juga ikut naik. Gula, minyak, telur, semua serba mahal,” keluh Slamet, petani di Kayen, Selasa (29/4/2026).
*Untung tipis, beban makin berat*
Petani menghitung, kenaikan harga padi sekitar 5-7% tidak sebanding dengan kenaikan biaya produksi yang mencapai 10%. Obat padi seperti insektisida dan fungisida yang dulu Rp45 ribu/botol, kini jadi Rp49-50 ribu. Ongkos tenaga panen juga naik karena buruh tani minta upah lebih tinggi seiring harga sembako.
“Yang di pasar juga ngeluh. Kebutuhan rumah tangga naik semua. Jadi uang hasil jual padi habis buat nutup kebutuhan sehari-hari. Tabungan? Susah,” ujar Sari, istri petani yang juga pedagang di pasar.
Kekecewaan itu memuncak jadi satu kalimat getir dari warga: “Petani di Indonesia tidak akan pernah sukses kalau begini terus. Pas panen harga naik dikit, tapi pas mau nanam lagi semua input udah naik duluan.”
*Pemerintah diminta stabilkan harga input*
Warga berharap pemerintah bisa menstabilkan harga pupuk bersubsidi dan obat pertanian. Selain itu, harga jual gabah di tingkat petani juga perlu dikawal agar tidak ditekan tengkulak.
“Kami cuma minta keadilan. Kalau harga padi naik, tolong harga pupuk sama sembako ditahan. Jangan sampai petani kerja keras dari tanam sampai jemur gabah kayak gini, tapi hasilnya cuma cukup buat makan,” kata Slamet sambil meratakan gabahnya.
Hingga saat ini Dinas Pertanian Pati belum memberikan keterangan resmi terkait kenaikan harga input pertanian. Sementara petani terus berdoa agar cuaca cerah, harga stabil, dan kerja keras mereka tidak sia-sia.
Rls- @(Irwan Sholikin)












