divisinews.com // PASURUAN – kemiskinan ekstrem kembali terlihat di Kota Pasuruan. Sebuah rumah milik pasangan suami istri, Pak Tri Gandung Warjito dan Bu Peti, warga Kelurahan Randusari, Kecamatan Gadingrejo, kondisinya sangat memprihatinkan dan nyaris roboh.
Ironisnya, hingga kini belum terlihat adanya penanganan serius dari pemerintah.Rumah yang ditempati keluarga tersebut tampak rusak parah. Sabtu {16/05/26}
Atap rumah bocor di berbagai titik, kayu penyangga sudah lapuk, plafon nyaris ambruk, bahkan sebagian material bangunan sudah berjatuhan ke dalam rumah. Kondisi itu jelas membahayakan keselamatan penghuni setiap saat, terlebih saat hujan turun.
Tak hanya itu, keluarga tersebut juga hidup tanpa fasilitas WC yang layak. Di tengah berbagai program pembangunan dan gencarnya slogan kesejahteraan rakyat, fakta masih adanya warga hidup dalam kondisi seperti ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah.
Kondisi memilukan itu mendapat perhatian Ketua LIRA Jawa Timur, Ayik Suhaya, yang turun langsung meninjau lokasi.
Saat melihat kondisi rumah, Ayik mengaku prihatin sekaligus geram karena rumah tersebut dinilai sudah tidak layak huni namun seolah luput dari perhatian.
“Atapnya bocor, kayu penyangga sudah rapuh, plafonnya juga hampir ambruk dan materialnya sudah banyak berjatuhan. Ini sangat berbahaya bagi penghuni rumah,” tegas Ayik di lokasi.
Menurut keterangan keluarga, Pak Tri hanya bekerja serabutan dengan penghasilan sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per minggu. Penghasilan itu harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama istri dan anaknya.
Ayik menyebut kondisi tersebut masuk kategori kemiskinan ekstrem yang seharusnya menjadi prioritas penanganan pemerintah.
Ia pun mendesak Pemerintah Kota Pasuruan agar tidak hanya hadir saat seremoni dan pencitraan, tetapi benar-benar turun membantu rakyat kecil yang membutuhkan.
“Negara ini sudah merdeka puluhan tahun. Sangat memprihatinkan kalau masih ada warga yang tinggal di rumah hampir roboh seperti ini. Pemerintah jangan tutup mata dan jangan hanya sibuk pencitraan,” kritiknya keras.
Ia juga menyoroti adanya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa. 95,37M) yang menurutnya bisa dimanfaatkan untuk program renovasi rumah tidak layak huni bagi warga miskin ekstrem.

Selain meminta Wali Kota dan Ketua DPRD Kota Pasuruan turun langsung melihat kondisi warga, Ayik juga mendesak Gubenur Jawa timur khofifah indra wangsah Wajib Turun dan pemerintah pusat agar segera mengambil langkah konkret.
“Kami minta ada tindakan nyata. Rumah Pak Tri harus segera direhab total supaya keluarga ini bisa hidup lebih layak dan aman,” pungkasnya.












