Divisinews.com//Maros,- Komitmen terhadap pelestarian budaya lokal terus ditunjukkan oleh S. Muh. Nur Assegaf, yang akrab disapa Puang Cora. Ia dikenal sebagai salah satu pemerhati budaya asal Kabupaten Maros yang telah lama berkecimpung dalam berbagai aktivitas kebudayaan, baik di tingkat komunitas maupun melalui keterlibatannya di sejumlah lembaga seni dan budaya di daerah tersebut.
Sejak awal kiprahnya, Puang Cora aktif mendorong upaya pelestarian tradisi sebagai bagian penting dari identitas masyarakat. Pengalaman panjangnya dalam berbagai kegiatan budaya tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membentuk perspektifnya tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara warisan leluhur dan dinamika kehidupan modern.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Puang Cora kemudian mendirikan sebuah wadah mandiri bernama Lembaga Seni Budaya Karuwisi. Lembaga ini didirikan sebagai ruang kolaborasi, edukasi, sekaligus pengembangan nilai-nilai budaya yang berakar kuat pada kearifan lokal. Kehadiran lembaga ini diharapkan mampu menjadi pusat kegiatan yang tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menghidupkannya kembali dalam konteks kekinian.
Dalam operasionalnya, Lembaga Seni Budaya Karuwisi tidak hanya berfokus pada pelestarian seni dan budaya semata. Lembaga ini juga mengintegrasikan pendekatan religius sebagai bagian dari misinya. Puang Cora memandang bahwa budaya dan agama merupakan dua unsur yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat.
Hal tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan seperti pembacaan barasanji, kajian pasang yang berisi petuah dan nasihat leluhur, hingga pengenalan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam benda pusaka dan kesenian tradisional. Melalui pendekatan ini, nilai-nilai spiritual disampaikan secara lebih kontekstual dan mudah diterima oleh masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurut Puang Cora, pendekatan budaya memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan.
“Budaya adalah bahasa yang dekat dengan masyarakat. Ketika nilai-nilai agama disampaikan melalui pendekatan budaya, maka pesan tersebut akan lebih mudah dipahami dan dihayati,” ungkapnya.
Selain itu, lembaga yang dipimpinnya juga berupaya menjadi ruang dialog antar generasi, di mana nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur dapat terus dipelajari, dipahami, dan dilestarikan. Ia menekankan bahwa keberlanjutan budaya sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda sebagai penerus.
Di tengah arus globalisasi yang kian pesat, keberadaan Lembaga Seni Budaya Karuwisi menjadi salah satu upaya konkret dalam menjaga identitas budaya lokal agar tidak tergerus oleh perubahan zaman. Puang Cora berharap lembaga ini dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lain untuk terus menjaga dan merawat warisan budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa.
Dengan semangat pelestarian dan penguatan nilai spiritual, Lembaga Seni Budaya Karuwisi diharapkan mampu menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi sekaligus menanamkannya dalam kehidupan masyarakat modern.
Editor : Hasan.








